Hari Ibu: Ketegaran dan Semangat Berbuah Bahagia

Tak cukup menuliskan kata untuk mengisahkan kisah ini. Mungkin berjuta lembar kertas pun takkan sanggup menjadi tempat untuk mencurahkan cerita ini. Suka duka dan seribu satu peristiwa kualami bersamanya, 37 tahun sudah kuhirup udara dunia melalui kasih sayang beliau. Ibuku, seorang perempuan sederhana yang sangat berenergi di mataku. Keterbatasan sosial ekonomi yang dimiliki bukanlah penghalang baginya untuk menjadikanku seorang manusia yang berhasil meraih cita-cita.

Bagai peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, inilah kisah yang tepat bagi kami. Memori ini berawal dari perginya seorang lelaki pelindung, ayahku. Sehari setelahnya, ibuku harus dirawat karena mengidap penyakit tumor kronis yang terabaikan. Terabaikan karena tak ada biaya untuk berobat. Dengan hanya bersisa 2,8 haemoglobin dalam darah, ibuku harus menjalani transfusi darah sebanyak 4,5 liter dan ibuku bertahan. Semangat hidupnya yang tinggi menghapus kekhawatiranku akan kehilangan kedua orangtuaku dalam sekejap. Wajah pucat pasi itu masih terbayang di pelupuk mata ini, tak berdaya menahan derita. Sungguh Tuhan sedang menguji kami, batas normal kandungan haemoglobin dalam darah perempuan adalah 12,0 Hg dan ibuku hanya memiliki 2,8 Hg saja.

Ini karena kurangnya asupan gizi yang kami alami disebabkan keterbatasan rizki kami kala itu. Uang pensiun TNI dari ayah tak cukup untuk membiayai hidup kami. Mencoba peruntungan dengan berjualan makanan, aku berjualan di sekolahku. Pagi-pagi buta ibuku membuat segala macam makanan kecil, gorengan dan sebagainya untuk aku bawa ke kantin sekolah. Berbekal 3 buah keranjang kue dan segunung doa dari ibu kupergi ke sekolah. Rasa malu didadaku sirna, tak sebanding dengan semangat yang ibu titipkan agar aku mampu membawa pulang uang untuk mencukupi kebutuhan.

Hari demi hari kami jalani tanpa keluh kesah karena saat itulah yang terbaik bagi kami dan harus kami lewati. Alhamdulillah karena rahmat Allah SWT. aku dapat melanjutkan ke sekolah menengah atas dengan nilai yang tertinggi di SMPN 2 Cilacap.

Kesederhanaan menjadi pemandangan yang tiap hari kami pakai, tanpa protes kepada siapa pun sampai pada saatnya aku lulus SMAN 1 Cilacap dengan nilai sangat baik. Mencoba nasib menjadi seorang mahasiswi ikatan dinas di Yogyakarta dengan harapan lulus mendapat pekerjaan di sebuah perguruan tinggi milik instansi pemerintah, namun tak berlangsung lama hanya sehari merasakan sebagai mahasiswi karena ibu tak sanggup menyediakan biaya kost, makan dan uang semesteran yang cukup mahal di tahun 1995. Akhirnya aku mencoba mencari kuliah lain yang membebaskan dari segala biaya. Beruntung aku terjaring dalam sekolah ikatan dinas yang benar-benar gratis bahkan diberi uang saku per bulan meski berada jauh dari kampung halaman. Dengan bermodal semangat yang ibu tularkan, aku beranikan diri menembus ibukota Jakarta demi perbaikan nasib yang aku alami. Tiga tahun berkelana dengan hanya mendapat kiriman uang kost sebesar Rp. 40ribu, itu pun mungkin hasil tabungan ibuku selama sebulan karena uang pensiun sudah habis untuk bayar cicilan Bank saat masuk kuliah di yogyakarta. Hal yang lebih membuat aku meronta, Ibu sering menjadi buruh di TPI sebagai pembersih ubur-ubur, kala aku jauh di Jakarta dan itu membuat hatiku tersayat.

Aku bertahan hidup mengandalkan uang ikatan dinas dari sekolah, pun datangnya tak menentu kadang tepat waktu, kadang mundur. Kadangkala aku kerja serabutan ikut kegiatan survei para senior agar bisa untuk makan. Nilai tak kuhiraukan yang penting bisa naik tingkat dan lulus. Tiga tahun menuntut ilmu dan hanya sekali ibuku menjenguk aku itupun karena aku di wisuda.

Alhamdulillah semua sampai juga pada tujuan meski aku tertatih dan saat lulus aku didaulat menjadi seorang pegawai negeri sipil.

Ternyata Tuhan selalu melihat kami, Dia tak pernah mengabaikan jerih payah ibu untuk berusaha selalu membahagiakan aku.

Berkat restu ibu dan ridlo Allah SWT, kini aku sangat bersyukur, masih ditemani ibu “Wonder Woman Super Hero” yang selalu menyayangiku. Hidup lebih baik dibanding ketika aku remaja. Mama… terimakasih telah kau tempa aku untuk menguak nasib, meraih cita-cita, menghapus jejak duka yang semoga selamanya tak berulang untuk anak cucu di masa yang akan datang.

Selamat Hari Ibu, tulisan ini takkan pernah ada tanpa semangat, kasih sayang dan cinta yang terpatri dalam sanubariku untuk seorang Wanita yang bernama Poniyah Binti Berhasan kepadaku, anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: